Hakikat Pendidik

Pengertian Pendidik
 Secara lughawi kata pendidik dalam bahasa arab kerap disamakan dengan sebutan mu’ alim( guru, pelatih serta pemandu), mudarris( guru, pelatih, serta dosen) murabbi, muaddib( guru dalam pembelajaran al- Quran), serta ustadz( guru, professor, pelatih, penulis serta penyair). Abuddin Nata,( 1997: 61- 62). Ada pula dalam bahasa inggris kata pendidik bersebelahan arti dengan teacher( guru ataupun pengajar), tutor( guru privat/ guru yang mengajar dirumah), instructor( guru, pelatih serta lektor), trainer( pelatih ataupun penggembleng) lecturer( dosen) serta educator( pendidik ataupun pakar mendidik).
 Secara terminology, definisi pendidik di Indonesia merupakan sebagaimana tercantum dalam undang- undang Sisdiknas nomor 20 tahun 2003 pasal 39 ayat 2, ialah: Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran,menilai hasil pembelajaran,melakukan pembimbingan dan pelatihan,serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat,terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi. UUD RI,( 2007: 34).
 Sedangkan menurut Undang- undang Guru serta Dosen membagi istilah pendidik jadi 3 sebutan, yaitu: pertama, guru untuk pendidik di pembelajaran umur dini jalan pembelajaran resmi, pembelajaran bawah, serta pembelajaran menengah. Kedua, dosen untuk pendidik di akademi besar ataupun universitas. Serta ketiga, guru besar ataupun professor ialah jabatan fungsional paling tinggi untuk dosen yang masih mengajar di area satuan pembelajaran besar. Bagi Ahmad Tafsir,( 1994: 74) pendidik merupakan siapapun yang bertanggungjawab secara langsung terhadap pertumbuhan peserta didik. Mereka berkewajiban meningkatkan segala kemampuan peserta didik, baik kognitif, afektif ataupun psikomotorik bersumber pada ajaran Islam. Sebaliknya Noeng Muhajir,( 2003: 71) menarangkan kalau pendidik merupakan seorang yang mempribadi( personifikasi pendidik), ialah mempribadinya totalitas yang diajarkannya, bukan cuma hanya isi ataupun ilmunya hendak namun pula nilainya. Inti dari personifikasi pendidik baginya merupakan kalau pendidik merupakan seorang yang professional dengan mempunyai 3 ketentuan, ialah: mempunyai pengetahuan lebih, mengimplisitkan nilai dalam pengetahuannya, serta bersedia mentransfer ilmu serta nilainya kepada partisipan didik.

Karakteristik Pendidik Perspektif Merdeka Belajar
 Berhasil atau tidaknya sebuah pembelajaran diukur dari bagaiamana seorang guru tersebut dalam melakukan pengajaran. Pembelajaran merdeka belajar menuntut kemampuan guru untuk dapat membuat peserta didik menjadi pusat pembelajaran.Hasil proses pembelajaran menuntut peserta didik untuk mempunyai keterampilan-keterampilan yang mendukung pada era merdeka belajar ini yang disebut dengan keterampilan 4C.
Pembelajaran Merdeka Belajar bukan lagi berpusat kepada pendidik akan tetapi berpusat kepada peserta didik atau biasa disebut dengan SCL (Student Center Learning) yang mana guru disini hanya berperan sebagai fasilitator. Peranan guru atau pendidik ini adalah guru berperan sebagai korektor, inspirator, motivator, informator, organisator, inisiator, fasilitator, demonstrator, pembimbing, guru juga berkewajiban memiliki komitmen professional untuk meningkatkan mutu Pendidikan. Maksud dari fasilitator disini adalah guru membimbing peserta didik dalam menggali ilmunya, serta mengarahkan peserta didik dalam pembelajaran, serta memberikan fasilitas yang layak bagi peserta didik. Tugas utama guru sebagai fasilitator adalah untuk membantu siswa di dalam proses pembelajaran.Pendidik juga dituntut untuk mempunyai kompetensi-kompetensi dalam mencapai hasil pembelajaran, seorang guru perlu memiliki kompetensi yang baik secara kompeten. Kompetensi juga menggambarkan keterampilan seorang guru dalam melaksanakan pembelajaran.Kompetensi adalah pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak.Guru memegang peran yang sangat penting dalam keberhasilan implementasi Kurikulum Merdeka. Mereka adalah pihak yang berinteraksi langsung dengan siswa dan memiliki pengaruh besar terhadap pencapaian tujuan pendidikan. Berikut adalah beberapa peran guru dalam Kurikulum Merdeka:
 a. Menjadi Fasilitator Pembelajaran
 b. Menyesuaikan Pembelajaran dengan Kebutuhan Siswa
 c. Menyusun Rencana Pembelajaran yang Fleksibel
 d. Menumbuhkan Profil Pelajar Pancasila

Kelebihan dan Kekurangan Pendidik  Perspektik Merdeka Belajar
Kelebihan Kurikulum Merdeka Belajar
-Pembelajaran Yang Disesuaikan Dengan Kebutuhan Siswa. 
-Guru Dapat Memilih Metode Yang Tepat Untuk Mengajar. 
-Meningkatkan Kreativitas Siswa. Kurikulum Merdeka Belajar juga dapat meningkatkan kreativitas siswa. 
-Meningkatkan Motivasi Siswa Untuk Belajar. 
-Meningkatkan Partisipasi Siswa Dalam Pembelajaran. 

Kekurangan Kurikulum Merdeka Belajar
 Kurikulum Merdeka Belajar (KMB) telah diperkenalkan sebagai cara untuk memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia. Namun, seperti halnya setiap sistem pendidikan, KMB juga memiliki kekurangan yang perlu diperhatikan. Berikut adalah beberapa kekurangan KMB:
-Mengurangi Standardisasi Pendidikan. Salah satu kekurangan Kurikulum Merdeka Belajar adalah bahwa sistem ini mengurangi standarisasi pendidikan di Indonesia. 
-Memerlukan Peran Aktif Siswa Dalam Pembelajaran. 
-Memerlukan Peran Aktif Guru Dalam Mengembangkan Pembelajaran. 
-Memerlukan Waktu Dan Sumber Daya Yang Lebih Besar. 

Peluang dan Tantangan Pendidik Perspektif Merdeka Belajar
 Meskipun ada berbagai tantangan, implementasi Kurikulum Merdeka juga membuka berbagai peluang bagi guru. Berikut adalah beberapa peluang yang dapat dimanfaatkan oleh para pendidik:
a. Pengembangan Profesional yang Lebih Besar
Kurikulum Merdeka memberikan kebebasan bagi guru untuk mengembangkan metode pembelajaran yang lebih sesuai dengan kebutuhan siswa. Ini merupakan peluang besar bagi guru untuk mengasah kreativitas dan inovasi dalam mendesain pengalaman belajar. Dengan berfokus pada pengembangan kompetensi dan karakter siswa, guru memiliki kesempatan untuk memperkaya diri melalui pelatihan dan pengembangan profesional.
b. Meningkatkan Keterlibatan Siswa dalam Proses Pembelajaran
Dengan pendekatan yang lebih fleksibel dan berbasis pada kompetensi, siswa dapat lebih aktif terlibat dalam proses pembelajaran. Guru memiliki kesempatan untuk menciptakan kelas yang lebih interaktif dan menyenangkan, di mana siswa merasa lebih dihargai dan diberi ruang untuk berpendapat. Hal ini tentu akan meningkatkan motivasi belajar siswa dan memperkuat hubungan antara guru dan siswa.
c. Kolaborasi dengan Sesama Guru dan Sekolah
Kurikulum Merdeka mendorong adanya kolaborasi antar guru dan sekolah dalam merancang pembelajaran. Guru dapat saling bertukar ide dan berbagi pengalaman, serta bekerja sama untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih inklusif dan inovatif. Hal ini memperluas jaringan profesional guru dan membuka peluang untuk pengembangan diri bersama.
d. Mengintegrasikan Teknologi dalam Pembelajaran
Seiring dengan perkembangan teknologi, Kurikulum Merdeka memberikan peluang bagi guru untuk mengintegrasikan teknologi dalam proses pembelajaran. Dengan memanfaatkan perangkat digital, guru dapat menciptakan materi pembelajaran yang lebih menarik dan interaktif. Ini juga memungkinkan siswa untuk belajar dengan cara yang lebih fleksibel dan mandiri.
Meskipun banyak peluang yang dapat dimanfaatkan, implementasi Kurikulum Merdeka juga menghadirkan sejumlah tantangan bagi guru. Berikut adalah tantangan utama yang perlu dihadapi oleh para pendidik:
Keterbatasan Sumber Daya dan Infrastruktur
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi oleh guru adalah keterbatasan sumber daya dan infrastruktur, terutama di daerah-daerah terpencil. Tidak semua sekolah memiliki fasilitas yang memadai untuk mendukung pembelajaran berbasis teknologi. Tanpa dukungan infrastruktur yang memadai, akan sulit bagi guru untuk mengimplementasikan Kurikulum Merdeka secara maksimal.

Implikasi Pendidik Perspektif Merdeka Belajar terhadap Pelaksanaan Pendidikan di Indonesia Era Kurikulum Merdeka
 Pembaharuan kurikulum memberikan dampak besar terhadap proses pembelajaran. Karena dengan inovasi tersebut maka mulai dari proses, model ataupun metode pembelajaran akan semakin efektif dan efisien yang bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia semaksimal mungkin. Kurikulum penting untuk diperbaharui untuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman, apalagi saat ini ilmu pengetahuan dan teknologi informasi berkembang semakin massif dan tidak terkendali. Perubahan yang dilakukan terhadap kurikulum yang ada di Indonesia merupakan salah satu perubahan yang cukup penting dalam dunia pendidikan (Ramadhani et al, 2022)
Seperti pendapat dari Widiastuti dkk (2013) bahwa guru merupakan pemeran utama dalam pengembangan dan implementasi kurikulum. Untuk itu guru perlu memiliki pemahaman yang komprehensif tentang bagaimana dokumen kurikulum dimodifikasi agar dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran yang berkualitas, sehingga sulit bagi guru untuk dilatih dalam penerapan kurikulum yang dimodifikasi (Fauziah et al., 2023).
1. Persiapan Guru Dalam Penerapan Kurikulum Merdeka
Untuk menerapkan kurikulum merdeka, beberapa kegiatan yang dilakukan pertama kali yaitu memahami makna dari kurikulum merdeka itu sendiri. Tentunya untuk menerapkan kurikulum merdeka, guru harus terlebih dahulu memahami apa itu kurikulum merdeka. Aturan apa yang berlaku untuk menerapkan kurikulum tersebut, dan lain sebagainya. Daga (2021) mengatakan bahwa jika guru telah memahami konsep merdeka belajar dengan tepat maka guru akan tepat pula dalam pelaksanaannya. Kegiatan selanjutnya yaitu, dengan melakukan pelatihan dan sosialisasi mengenai penerapan kurikulum merdeka. Menurut para guru, bahwa kurikulum ini sangat penting diadakannya pelatihan dan sosialisasi guna kelancaran dalam proses pelaksanaannya. Dengan adanya pelatihan dan sosialisasi mengenai kurikulum merdeka ini, guru akan memperoleh pengetahuan dan keterampilan mengenai kurikulum merdeka yang direncanakan dan dilaksanakan oleh sekolah. Menurut Mustofa & Mariati (2023) bahwa pemberian pelatihan kepada guru merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kompetensi dari guru tersebut, khususnya tentang penerapan kurikulum yang mengalami pembaharuan. Kurikulum merdeka belajar memberikan kebebasan bagi para guru untuk berkreasi, namun mengembangkan kurikulum bukan hal yang mudah apalagi ini merupakan sesuatu hal yang baru bagi para guru sehingga butuh penyesuaian yang tidak sebentar. Hal tersebut diperkuat dengan penelitian Saputra & Hadi (2022) bahwa kualitas dan kuantitas pelatihan yang diikuti oleh guru juga memberikan pengaruh yang signifikan untuk membangun kerangka persepsi guru mengenai kurikulum merdeka.guru mengatakan bahwa hal yang harus dipersiapkan yaitu membuat rancangan pembelajaran sesuai aturan Kurikulum Merdeka. Perubahan kurikulum juga berdampak pada berubahnya sistem administrasi dan dokumen yang harus disiapkan guru dalam proses pelaksanaan pembelajaran. Perencanaan pembelajaran meliputi banyak tahapan, yaitu
(1) menganalisis hasil belajar
(2) menyusun tujuan pembelajaran
(3) menyiapkan alat pengajaran
(4) tahapan atau kegiatan pembelajaran dan
(5) penilaian.
2. Perubahan yang Dirasakan Guru dalam Penerapan Kurikulum Merdeka
Ketika melaksanakan kurikulum merdeka, guru tentu merasakan perubahan yang terjadi setelah melaksanakan program tersebut. Perubahan yang pertama kali dirasakan yaitu perubahan dalam perencanaan pembelajaran tentang bagaimana mengubah rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) menjadi modul pengajaran. Maulida (2022) mengatakan bahwa modul ajar sangat dipentingkan dalam proses pembelajaran bagi guru dan siswa. Modul ajar berisi materi pembelajaran yang disusun secara sistematis dengan acuan prinsip pembelajaran yang diterapkan guru kepada siswa. Persepsi dalam wawancara yang dilakukan, responden memaparkan bahwa pengubahan RPP menjadi modul pengajaran memudahkan guru dalam berinovasi dalam memberikan pembelajaran.
Selain hal tersebut guru juga beranggapan bahwa materi pembelajaran yang tidak terikat. Berbeda dengan Kurikulum 2013, Kurikulum merdeka tidak lagi terikat pada penyampaian materi pembelajaran yang dikelola seperti kompetensi inti atau indikator kinerja yang telah ditetapkan, melainkan hanya terikat pada capaian pembelajaran yang diberikan oleh pemerintah. Hal ini sejalan dengan penelitian Indarta et al (2022), yang mengatakan bahwa kurikulum merdeka mampu membuat guru dan siswa bekerja sama dalam menyusun kurikulum (tujuan, metode, materi dan evaluasi) dengan merdeka atau bebas.Selain hal tersebut, dicanangkan program P5 yang merupakan singkatan dari potensi pribadi, peran sosial, peningkatan diri, pengetahuan diri dan pemberdayaan. Dengan adanya proyek Penguatan Profil Siswa Pancasila (P5), maka siswa akan lebih aktif karena terlibat langsung dalam proses pembelajaran dan berinteraksi dengan lingkungan untuk memantapkan keterampilan yang terdapat dalam Profil Siswa Pancasila (Nurjanah et al., 2022). Adanya peningkatan kreatifitas siswa dalam belajar Dengan program merdeka belajar, keaktifan dan kreativitas siswa dalam belajar dapat ditingkatkan. Program ini diharapkan dapat membantu siswa memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang diungkapkan melalui tindakan dan gagasan, dan lembaga pendidikan mempertimbangkan untuk mengikuti perkembangan zaman yang pesat yang mengharuskan untuk melek teknologi.
3. Hambatan Guru dalam Penerapan Kurikulum Merdeka Belajar
Spesifikasi pendistribusian kelengkapan menjadi kendala utama dan dapat mempengaruhi pelaksanaannya hingga menjadi tidak efektif. Kebanyakan guru merasa aspek administratif ini terlalu rumit, waktu dan tenaga terbuang percuma, dan siswa dinilai dari banyak aspek proses belajar mengajar. Namun secara umum kendala tersebut dapat diatasi dengan baik oleh sebagian besar guru sehingga proses penerapannya tidak membawa dampak yang berarti. Meski berbagai perbaikan perlu dilakukan, sebagian besar guru berharap program tersebut tetap dipertahankan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendidikan Inklusi

Inovasi Pendidikan

Media dan Sumber Belajar